Tag Archives: mimpi

Cinta, Kerja dan Mimpiku Bersama FLP

Status

Awalnya biasa saja, bahkan tidak tahu banyak tentang FLP itu apa. Itulah, batin yang terbesit sembilan bulan silam, saat ajakan salah seorang teman untuk mengikuti Stadium General dan Launching kepengurusan FLP Wil Yogyakarta di Gd Teatrikal UIN. Setelah ikut SGD pun, batin dan perasaan masih merasa biasa aja, apa sih yang menarik dari FLP. Uniknya, entah karena kekuatan apa, malah meminta formulir pendaftaran di tempat, meski harus “membeli” sebesar 10.000.

Sesampainya di rumah, masih biasa aja, belum ada medan “magnet”  yang bisa menarik diri tuk segera mengisi formulir ini. Akhirnya, satu dua hari terlewati, hingga beberapa minggu dan deadline pendaftaran semakin dekat. Aneh, ternyata kok aku isi juga formulir ini. Dimulai dari biodata diri, tak sulit untuk diisi. Tibalah pada kolom yang membuat niat segan tuk melanjutkan, buku yang pernah dibaca dan penulis idola. Nah lohh….. pena pun berhenti melenggang.

Lupa, FLP itu  organisasi ’penulis’, ya calon anggotanya pun harusnya melek dunia kepenulisan dan pengetahuan tentang buku bacaan dan sejenisnya, ‘kan?. Sayangnya aku tidak. Kuingat kembali apa yang pernah kubaca semasa SMA. Alhamdulillah (Cuma) ada dua buku, Edensor dan 99 Cahaya di Langit Eropa. Formulirpun kukumpulkan, berbekal dua buku yang menjadi senjata apa adanya dan naskah karangan sendiri yang ku cuplik dari blog pribadi (curhatan sih) dan juga modal bacaan seadanya. Alhamdulillah… malah diterima, rasa tak percaya dan tak pantas datang menghantui. But To be a newbie writer must go on.

 

kamu lolos seleksi anggota FLP san?” tanya seorang temanku yang berkecimpung di media SKI Fakultas.

“Hebaatt” celetuknya spontan. Aku hanya tersenyum, apanya yang hebat?.

“Ah, biasa aja kok masih belajar” jawabku sekenanya.

Percakapan singkat tadi masih membuatku terheran. Ternyata, ekspektasi orang di luar sana menganggap FLP itu organisasi yang patut diperhitungkan, buukan maain :D. 

3 Pilar (Keislaman Kepenulisan dan Keorganisasian)

Tangga pertama agar anggota baru dinisbahkan menjadi keluarga FLP angkatan XV diawali dengan PDKT. Tiga pilar ke-FLP an pun diperkenalkan, Keislaman, Kepenulisan dan Keorganisasian. Ketiganya membentuk siklus, bukan alur. Artinya, tiga pilar saling bersinergi membentuk harmoni dan menjadi dasar kemandirian FLP.

Pasca PDKT, kebanggaan akan FLP mulai menyeruak dengan diperkenalkannya nama-nama yang bagiku asing namun ternyata mereka adalah penulis terkenal output dari FLP, Shinta Yudisia, Afifah Afra, Habiburrahman El-Shirazi dan masih banyak lagi. Subhanallah, saya tidak salah langkah ternyata. Langkahku di FLP pun semakin mantap. Mulailah muncul kata hati untuk mencoba peruntungan sebagai penulis betulan. Pasti bisa, karena saat ini saya di FLP, toh ini organisasi kepenulisan yang konon bisa melahirkan penulis-penulis terkenal bahkan karyanya difilmkan.

Iklim di FLP lambat laun mulai nyaman untukku, para senior dan teman seangkatan yang mulai menjadi keluarga ketiga, setelah KAPMEPI DIY dan tentunya Ayah Ibu. Langkah semakin yakin dengan kucicipi manisnya ukhuwah yang tercurah disini. Kini FLP menjadi sebuah madrasah dalam mengupgrade tsaqofah Islamiyah dalam diri. Ibarat sebuah kaca yang akan menghasilkan bayangan yang nyata, tegak, seperti aslinya, itulah FLP. Disini, aku lebih memahami siapa saya, baik kekurangan maupun potensi diri dengan berkaca pada mereka.

FLP telah banyak memberi untukku, memperkenalkan lebih dalam tentang seluk beluk dunia fiksi dan non fiksi, memperluas wawasan lewat kajian kontemporer (seni), FLP juga memberikan wadah bagi yang suka seni lewat Forum Teater, meski hanya pernah sebagai tim properti. Paling baru, FLP memberi pelatihan menjadi calon trainer kepenulisan. Wow banget.

Satu persatu mimpiku mulai tergantung di FLP, menjadi seorang penulis betulan (garis bawah+bold). Betulan berarti betul-betul menghasilkan karya.

“Wahai manusia, saat kau dilahirkan ibumu, engkau menangis sementara orang disekitarmu tertawa gembira. Banyaklah berkarya, kelak kau ‘kan tersenyum bahagia, saat orang-orang menangisi kepergianmu” (Imam Syafi’i)

Tapi kini, FLP tengah disibukkan dengan keistiqomahan jamaahnya. Karya menipis, prestasi minim, gaungnya kini tengah dipertaruhkan dibalik nama besarnya. Menyikapi fenomena itu, dengan mantap dan sigap tim kaderisasi merumuskan bahwa output dari anggota haruslah buku, bukan yang lain. Meski bagiku membuat buku itu susah, harus banyak baca, ngetik berjam-jam, dll. Kini baru kusadari, karya bukanlah tentang awal atau akhir. Bukan tentang lama atau cepat. Bukan pula untuk pujian atau celaan. Tapi pada niat, kesabaran dan kesungguhan azzam tuk menelurkan Karya.

Benarlah Imam Bukhari bisa menghasilkan karya besar yang mahsyur dengan Shahih Al-BukharinyaPantaslah karya besar Imam Syafi’i tersebar hingga kini, menjadi imam mazhab yang besar melalui kitab ar-Risalah dan al-Umm nya. Imam Malik pemilik kitab al-Muwatha. Bahkan Asy-syahid Sayyid Quthb dengan kitab tafsir kontemporer yang menjadi rujukan aktivis pergerakan, Fi Zhilaalil Qur’an [1]. Karya luar biasa yang tidak dihasilkan dari berleha-leha saja. Melainkan buah dari kemauan dan kesungguhan dalam mewujudkannya. Keikhlasan menjadi kunci selanjutnya.

Harapan untuk FLP, semoga menjadi rahim tuk mencetak embrio-embrio calon penerus semangat berkarya para mursyid sekaligus “penulis” hadist tersebut. Kini, FLP telah banyak memberi. Tiga pilar Keorganisasian, Keislaman dan Kepenulisan sudah ia pahamkan. Ingin sekali mimpiku kupersembahkan baginya. Sebuah karya Buku yang pertama. Menjadi tonggak awal pembelajar hidup untuk ikut andil dalam mengembalikan taring FLP Jogja.

Buku, Satu mimpi besar itu. Sejilid kertas wujud kecintaanku padamu. Keistiqomahan dalam berkarya wujud Kerja nyataku setelah lama diam berguru dan bersembunyi dibalik nama besarmu. Kebangkitan bermula dari mimpi, maka tuliskanlah mimpi itu, hingga mimpiku bersama FLP, terwujud dalam sebuah Karya besar, Buku.

Ayo Bangkit FLP Jogja !!

[1] Dalam buku The Power of Mother karya Solikhin Abu Izzudin & Dewi Astuti, hal 167-180

#FLPYogyakarya

Advertisements