Category Archives: read this and motivate your self :)

Selalu Pengen Ikhlas

Status

Diawali dengan rinai hujan yang belum reda sore ini.

Teriring doa yang membasahi tanah. Aroma khas nan sengir pun menusuk-nusuk lubang hidung. Ku rasa ini saatnya mendamaikan diri, hati dan perasaan. Diiringi lagu alam, tetesan hujan yang menghujam atap tanah liat coklat. Sejuk, tenang, damai. Suasana yang membawa pada sebuah memoar yang tidak mengenakkan. Memori yang tersimpan dalam hati namun terpaksa terungkapkan sebagai wujud protes ketidak ikhlasan.

Masalah hati siapa yang tau. Ia yang pandai membolak-balikkan hati, kadang suka, mendadak lara. Kadang gundah mendadak ceria. Ah sudah seperti cuaca saja, yang sudah tak tentu kondisinya. Tapi itulah kehidupan, kita harus senantiasa berbaik sangka pada yang mencipta.

Belajar Ikhlas

Pernahkah merasa gusar karena apa yang kita kerjakan selalu mendapat teguran atau cemoohan dari teman?. Pernahkah merasa menyesal memberikan barang kesayangan meski hanya dalam hati, mbatin. Dalam bukunya Mencari Ketenangan Ditengah Kesibukan karya Ust. Fauzil Adzim beliau mengupas tiga kunci pokok untuk meraihnya, yaitu sabar, ikhlas dan zuhud (sederhana). Satu poin penting tentang ikhlas.

ikhlas itu seperti surat “Al-Ikhlas”, tak ada satupun kata ikhlas bahkan disebut dalam ayat-ayatnya.

itulah ikhlas, merelakan. Mengalah. Bukan berati kita lemah, tapi insyaAllah justru akan mengantarkan kita pada ridhoNya. Tidak menuntut, atau bahkan sampai mengedepankan ego hanya untuk sebuah “sebutan”. Apa bangga rasanya jika dielu-elukan manusia? Apa banggaya sih dipuja-puja banyak orang? Lantas kita melupakan bahwa dunia dan segala tawaran keindahannya ini hanya JEMBATAN menuju jannahNya, menuju kehidupan yang lebih kekal, akhirat.

ikhlas itu seperti “besi”, meski sudah ditempa, dibakar, dipukul berulang kali, ia tak disebut kembali ketika sudah menjadi “pedang”

Susah payah kita mengerjakan. Berpeluh hingga kepayahan kita sendiri yang menanggung. Tapi akhirnya, tak sekalipun nama kita disebut. Bayangkan kamu menjadi donatur sebuah yayasan hampir 50%nya kamu yang menyumbang atas nama anda, tapi ternyata, namamu gak disebut dalam daftar donatur, entah karena lupa atau bagaimana. Apa masih rela? Udah ikhlaskan aja, ya memang ngomong lebih mudah tapi pasti tetap mbatin juga kan? Nah, apa masih bisa disebut ikhlas jika masih dibatin gitu? wallahualam bishowaf

InsyaAllah Allah maha mengetahui. Dan memang masalah niat itu erat kaitannya dengan keikhlasan menunaikan sebuah perbuatan. Apa yang akan kamu peroleh ya berawal dari apa niat kamu diawal. Kalau niatnya hanya untuk mencari sanjungan orang, kamu bisa dapat, tapi rido Allah, siapa yang tau. wallahualam

ikhlas seperti Ali bin Abi Thalib, saat pedangnya sudah menempel di leher musuhnya, saat ludah orang kafir mendarat di wajahnya. Dan saat itu pula gerakan sedikit saja pedang miliknya akan seketika memutuskan leher sang musuh

Namun apa yang terjadi, saat emosinya membuncah maka ia urungkan niat membunuh musuhnya itu..

Hingga setelah ditanya kenapa ia tidak jadi membunuh musuhnya padahal tinggal mengayunkan saja hingga ia terbunuh, jawabnya adalah

“‘Dia telah meludahiku….. jika aku jadi membunuhnya, aku takut akan membunuhnya bukan karena Allah, tapi karena ego dan marah padanya….'”

Subhanallooh, itulah ikhlas yang hakiki. Tak terkontaminasi kepentingan dan kepuasan pribadi. Ikhlas itu karena Allah saja, insyaAllah lebih mendatangkan berkah dan rahmat bagi kita.

Biarkan Allah yang menjawab diamku
akhirnya, ku temukan jawaban atas berbagai keterasingan diri dan istighfarku sampai saat ini, 
#keepistiqomah

KERJA KERAS

KERJA CERDAS

KERJA IKHLAS

Advertisements

Alhamdulillah, Aku Tersesat

Standard

sukses-adalah-perjalananAku Tersesat.

Yang muncul di benak mungkin bingung, was-was, panik dan entah berada di negeri antah berantah mana saat itu. Misalnya saja tersesat di jalan sepi yang sama sekali tidak kita kenal bahkan pertama kali melihatnya. Ingin bertanya tak ada orang yang melintas, ingin melanjutkan perjalanan tapi penuh dengan dilema.  Parahnya, kalau tidak balik arah, ya nekat melanjutkan jalan. Akan tetapi, justeru yang ada kita makin buta arah. Bingung kan? Rasanya akan sangat jengkel dengan diri sendiri.

Sayangnya, Lika-liku dan nano-nano rasa yang terkesan menyedihkan itu tak ku jumpai di jalanku yang “sedang” tersesat ini. Aku sadar bahwa aku menempuh jalan yang mulai bercabang.

Pencarian jati diri memang harus dilakukan. Tak heran, di momen-momen golden age sebagai seorang remaja yang sangat melik (curious-red.), menuntuk dirinya untuk mencoba apapun yang ia jumpai. Perlu diwaspadai, bahwa di dunia ini hanya ada dua hal, kalau tidak baik ya buruk, kalau tidak terpuji ya tercela, ada kanan ada kiri, selalu ada pasangannya, bahkan Allah pun telah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan. Tapi ini gak ada hubungannya dengan jodoh 🙂

Disinilah awal mula pergolakan batin. Meniti jalan yang penuh cabang. Ada yang menawarkan kesenangan, ada pula yang menawarkan kepuasan sesaat. Parahnya, ada juga yang tak betah hingga ikut-ikutan ke jalan yang penuh kemaksiatan. Sungguh mental pun diuji, namun yang tak kalah vital adalah iman.

Dalam tafsir QS. At Taghabuun (64) : 11

Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.

Inilah kebesaranNya, Ia yang Maha Agung, Maha Mendengar tidak tidur tidak berayah maupun beribu. Ia Esa. Ia juga yang mengguratkan warna-warni kanvas di kehidupan kita.

Aku bahagia, aku tersesat karena memilih jalan yang benar. Aku tersesat dari jalan yang selama ini salah ku lalui. Juga, aku tersesat jauh dari persimpangan-persimpangan yang menawarkan berbagai bujuk rayu kegembiraan yang fana.

Tersesat di jalan yang lapang. Dijalan yang penuh kembang dan kumbang bersenang-senang. Di jalan yang penuh dengan keyakinan diri untuk selalu mengingat-Mu. Jalan yang menjauhkan dari kebuntuan-kebuntuan hati dalam berserah diri. Jalan yang di alasnya terbbuat dari serat-serat ukhuwah yang kokoh. Jalan yang berliku namun mantab menuju-Mu. Jalan yang selalu terang karna bersama berjuang dengan orang-orang yang kau ridloi, dalam lingkup dan lingkar orang-orang yang shalih.

Tunjukilah kami ke jalan yang lurus

Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka

Bukan (jalan) mereka yang dimurkai

Dan bukan pula jalan mereka yang sesat

Sepenggal tafsir surah Al-Fatihah yang senantiasa menjaga bara semangat dalam diri tetap terjaga. Semoga tetap mengawal diri untuk istiqomah di jalan yang “sedang” tersesat ini. Bersyukur jalanku telah dibelokkan olehNya pada kebenaran, dituntun menuju peningkatan kualitas diri.

Obat hati, memang ada lima perkaranya, tapi yang terakhir berkumpullah dengan orang-orang shalih.

Syair penutup yang memang begitu adanya. Alhamdulillah, engkau perindah langkahku, dipertemukan dengan sosok-sosok yang membesarkan hati untuk tetap istiqomah.

Musholla Antah berantah,

di rinai hujan senja tadi

Dunia oh Dunia

Standard

Malik bin Dinar suatu hari berkata, “Seberapa besar sedihmu karena dunia? Maka sebesar itu hasratmu pada akhirat hilang dari dirimu. Seberapa besar sedihmu karena akhirat? Maka sebesar itu pula hasratmu pada dunia akan menguap sirna”.

Sepenggal kalimat penuh makna. Seakan mengingatkan kembali esensi kita hidup di dunia. Sejatinya, setiap manusia adalah khalifah di muka bumi. Namun, apa yang terjadi? Justru ada yang mengingkari. Bahkan, seringkali niat yang dilafadzkan bukan lillahita’ala. Sehingga, akhirat pun dinomor duakan. Alasannya sederhana, karena kita merasa masih muda. Kata pepatah, Muda foya-foya, Tua kaya raya dan Mati masuk surga. Surga siapa? nenek lo?

bunga8Hmm, ibarat biji yang telah mengalami morfogenesis hingga berkecambah dan kotiledon sebagai sumber nutrisi awalnya telah hilang, pemuda adalah perwujudan kuncup yang telah disemai. Untuk tumbuh menjadi tanaman seutuhnya tak lagi mengasup dari nutrisi kotiledonnya. Namun, banyak faktor yang menentukan, baik internal maupun eksternal. Nah disinilah kekompleks-an fase pendewasaan dimulai.

Kehidupan Dunia memang menawarkan banyak candu hingga fatamorgana. Tak ayal bagi yang silau akan gemerlap yang di tawarkan, akan mudah sekali mengalir mengikuti arus yang ada. Jika kita tidak disibukkan dengan kebaikan, maka kita disibukkan oleh keburukan.

Namun bagaimana caranya? Sementara, hidup di dunia ini pun juga dijejali dengan sederet kesibukan. Tak ayal menimbulkan rentetan kerepotan di sana sini. Sebut saja aktivitas perkuliahan yang padat. Jadwal kuliah dari pagi hingga malam, pagi lagi dan pulang malam lagi. Sibuk praktikum di sana sini. Sibuk urusan akademik dan kemahasiswaan yang membingungkan. Berjuang mati-matian belajar untuk ujian. Berdarah-darah dalam menyukseskan event kampus yang menyimbolkan ke-aktivis-an kita. Sibuk menyusun proposal atau laporan di depan laptop hingga larut malam. Kau ingat? Allah memerintahkan kita untuk sholat malam, bukan begadang malam.

Nah, dimulai dari hal-hal kecil itulah perlahan menyeret kita lupa akan tujuan awal hidup di dunia. Seakan terlena dan tak peduli pada kehidupan setelah di dunia. Bukankah sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa di dunia hanya mampir minum saja?

“Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (Tafsir QS. Adz –Dzariyat: 56 )

Jika demikian faktanya, Bagaimana dengan kabar tilawahmu? bagaimana sholat lima waktumu? lantas, apa dhuha-mu masih kau sempatkan untuk bermunajat? sepertiga malam-mu gimana? apa juga kau bela-belakan mengambil air wudhu?

Sungguh ironis memang. Kita bisa berlama-lama facebook-an, mengerjakan revisian, berlama-lama ngobrol dengan teman atau sekedar jalan-jalan di perbelanjaan. Tapi apa tidak malu? ketika Sholat, ingin cepat-cepat takhiyat akhir. Waktu dhuha, hanya kuat 2 rakaat saja. Bahkan saat tilawah, terkadang satu minggu baru dapat satu muka. Nasib sama pada tahajud pula, tak ingin bangun karena air dan udara dingin.

rukunpemuda

Sebuah refleksi diri untuk terus saling mengingatkan, berbagi dan memperbaiki diri. Fokus dan perbaiki niat hanya karena-Nya, niatkan segala bentuk aktifitas positif untuk ibadah. Perkuat iman, perkaya hati dengan keikhlasan yang murni hanya mengharap ridoNya. Sempurnakan niat dengan semangat yang utuh. Hingga kita petik buah dari amal-amal yang kita lakukan di akhirat kelak.

sumber gambar Rukun Pemuda : ademuhammadr.blogspot.com

 

 

La Tahzan #3 : Move On ?? Hajarr gan !!

Standard

move onKawan, masa lalu seseorang memang beragam. Ada yang biru, putih, hitam bahkan abu-abu. Ibarat kaca sepion, masa lalu itu akan selalu terlihat jika kita hanya  terdiam dan tak mau beranjak dari tempat yang sekarang. Namun cobalah, jalankan kendaraanmu perlahan lurus kedepan. Kau sadar? perlahan pula masa lalu itu tertinggal dan hanya termakan gelap. Tak ada bekas, dan tak perlu pula untuk disingkap lagi.

Begitulah kehidupan, bergegaslah untuk tetap kedepan, biarkan masa-masa suram, sepi, atau bahkan menyesakkan itu tertinggal berteman kesunyian. Tak ada gading yang tak retak, semua orang pastilah memiliki dan menyimpan masa-masa kelamnya. Masa dimana diri ini jauh dari nikmatnya iman, islam dan ihsan.  Masa dimana kemaksiatan lebih dekat daripada kebaikan-kebaikan. Masa dimana disibukkan aktivitas yang penuh kepentingan keduniawian. Tilawah jarang, Sholat pun harus di ingatkan.

Belajar dari pengalaman memang guru terbaik, tapi bukan berarti harus bergelayut dalam kesedihan dan menjadikan masa lalu sebagi momok yang menakutkan. Jika perasaan seperti itu muncul, justru akan menghalangi jalan kita untuk move on. Bisa jadi, akan takut mengambil resiko jika dihadapkan dalam suatu permasalahan yang rumit. Kenapa? Karena kita akan banyak berpikir dan tak mau jatuh di lubang yang sama. Percayalah, seorang pemimpin yang baik adalah yang berani mengambil resiko, berani memutuskan dan mengambil langkah. Jangan jadikan masa lalu sebagai hambatan untuk menang.

Hasbunallah wani’mal wakil,

Tak ada satupun di dunia ini yang pantas digunakan sebagai pegangan atau acuan, kecuali Dia. Karena masa lalu kita yang kelabu, juga merupakan skenario indah dari-Nya untuk menambah citarasa hidup di dunia. Sungguh rencana Dia begitu indah, maka sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan.

Lalu? Kenapa masih berdiam diri ? Bergegas dan palingkan wajahmu lurus ke depan, fokus dan niatkan segala jengkal langkah hanya karena Dia. Bersama, berangkulan saling menguatkan, mengingatkan dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Rasulullah saw. bersabda: “Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” (Shahih Muslim No.4832)

Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri.

Bertindaklah rendah hati, tapi bukan rendah diri

Harus Percaya diri, bukan arrogansi

Hanya pada-Nyalah kita kembali

3606580_20130224052842

La Tahzan #2 : Sambutlah Kemenangan. Bukan Kesedihan.

Standard

7936062886_7020266061
Dik, Ada kalanya usaha yangdilakukan dan terlampau sangat menggebu serasa hilang seperti berlalu tak ada sisa yang bisa di temu. Ada kalanya juga, ikhtiar yang sudah dilakukan seperti tiupan abu yang terasa hambar berhamburan tak bermakna. Lalu, kerja keras kita itu hanya tersisa dalam memoar hati yang seakan menyesali. Usaha tanpa doa apa ada energinya? Justru keduanya saling menguatkan di semua lini. Ibarat menggambar sebuah bujur sangkar. Kita lengah dan tak teliti di salah satu sudut nya saja, bisa jadi bukan empat sudut 90 derajat yang terbentuk justru akan melenceng hingga malah membuahkan trapesium atau bahkan jajar genjang sekalipun. Tapi kau ingat Dik? Hitunglah jumlah keempat sudut dari 3 bangun tersebut. Bujur sangkar yang kita harapkan muncul dalam goresan, hingga kemunculan jajar genjang atau trapesium itu. Semuanya 360 derajat. Iya kan?

Itulah perwujudan usaha dan doa Dik. Tak tentu. Selalu saja ada berbagai tantangannya. Sekalinya telah kita konsep matang dalam pikiran, bisa jadi bentuk dan hasil akhirnya akan jauh berbeda. Nah, dari sinilah awal mula pergolakan dimulai. Ketika hati telah menentukan sebuah ekspektasi yang tinggi, disaat itulah kita harus menjaga diri. Kita hanyalah manusia yang tak sesempurna makhluk Allah yang lainnya. Ketika patokan ekspektasi yang terbangun mulai merasuki hati dan pikiran, tentu akan banyak harapan-harapan yang kita patokkan. Tapi ingatlah Dik, ada Sang Penentu yang lebih jitu dari rencana yang manusia bisa rencakan. Dialah yang berhak memberikan atas nikmat, musibah, atau kesengaraan.

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi (pengetahuan atau kekuasaan) Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS : Al-Baqarah : 255).

Benarlah jika kita ini hanya berencana Dik, dan yang mengetok palu sebagai hakim kita adalah Dia. Dia yang pandai membolak-balikkan hati hambanya, Ia juga yang mengetahui segala apa yang ada di hati dan di pikiran manusia. Segala yang ada di bumi atau di langit. Maka berhati-hatilah dalam mematok sebuah penilaian terhadap usaha kita. Karena yang berhak menilai dan mengganjar buah ikhtiar perjuangan manusia hanyalah Allah semata.

Terkadang, ekspektasi yang berlebihan justru menghantarkan pada perasaan yang selalu mengharapkan kemenangan, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang membanggakan atau bahkan mengantar pada fantasi-fantasi semu yang melenakan. Hati-hati lah Dik, bukankah yang begitu dekat dengan kesombongan?
Allah telah menakar rejeki setiap hambanya, Ia lah yang Maha Adil seadil-adilnya. Ia juga yang mengerti dan paham akan nasib terbaik suatu hambanya.

Dik, ketika buah ikhtiarmu diganjar sebuah kemenangan, maka nikmatilah. Bersyukurlah atas doa yang telah di ijabah Nya. Namun jika kekalahan yang kau reguk dari usahamu, maka bersabarlah. Bisa jadi yang kita anggap baik bukanlah yang terbaik di mata Allah. Jangan meratapi kekalahan hanya dengan penyesalan. Justru berdirilah dan berbangga dirilah. Karena insyaAllah perjuangan dengan tabuh genderang baru di mulai. Kekalahan yang mengantarkan pada sebuah kekecewaan mendalam, justru sudah pernah kita rasakan. Sebuah pelajaran berharga yang disebutnya pengalaman.

Tak akan ada kemenangan jika tak ada yang kalah. Perjuangan dari bawah ke atas, jutru akan semakin mengokohkan semangat. Kencangkanlah kembali ikat tali di kepala, Kuatkanlah lagi sabuk perjuangan kita. Tegapkan lagi dada kita. Jangan kau tundukkan kepala seraya bergelayut dalam duka.

Jangan pula menuntut mengajukan banding kepadaNya karena kau menyangka jika buah usahamu sia-sia.
Bukan itu Dik ! Sebuah pencapaian yang luar biasa adalah manakala kau bisa berkompetisi bersama para pemenang itu.

Tabuhlah lagi genderang perangmu sekuat-kuatnya. Satu pintu kegagalanmu sudah tertutup. Pintu-pintu kemenangan yang lain justru terbuka dan mengajakmu berpaling dari keputus asaan.

Ingatlaaahhh . . . . .
“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu” (Tafsir QS. Al Hadiid 23)

semangat

La Tahzan : Belajar dari Sang Mentari

Standard

mentari tak sepenuhnya berlari

bahkan masih menyentuh nadi-nadi sanubari

menghujam runcingnya duri

atau bahkan menggeliat disela jerami

Ia tak pernah peduli

apakah pandai, cantik, kaya atau penguasa yang disinari

seakan penuh kerelaan diri

menajamkan surya tuk menerangi

Ia sungguh percaya diri

penuh komitmen dikala pagi

dan konsekuen tuk rela terganti

temaram padam pun tetap kau suguhkan lazuardi

rona keemasan yang takkan terlewati

kala t’lah berbelah segaris pantai

namun bukan pertanda kau tlah mati

itu adalah komitmen diri tuk rela terganti

sekedar tuk bersembunyi

menyambut kilauan perak sang bintang hati

tak terasa hari tlah berganti

kau pun tak merajai lagi

ada malam yang menggelayuti

menyuguhkan pula kekuasaan diri

memang tak ada yang bisa dipungkiri

bahwa kita takkan pernah bisa sendiri

saling bersinergi

membentuk sistem yang rapi

hanya kepada-Nya lah kita patut mensyukuri

segala nikmat yang tak tertandingi.

images (2)

mentari yang selalu tepat janji

Kehidupan di dunia memang menyuguhkan seluruh pelajaran bagi umat manusia. belajar dari sang Mentari, betapa bosan dirinya jika dianugerahi akal pikiran layaknya manusia yang sempurna. Seakan selalu menepati janji-janjinya. Ia tak pernah lari dari fakta dan takdir sang Illah. Meski dia merajai siang, ia tetap mampu berbagi. Ia tak egois,  ia juga tak menyombongkan diri. Kenapa? Karena kita, makhluk ciptaanNya beserta alam semesta dan seisinya hanyalah kecil di hadapan sang Khaliq. Secuil galaksi Milki Way yang sejatinya masih ada galaksi-galaksi lain yang bahkan lebih besar daya dan energinya. Matahari tak pernah mengeluh pada Tuhannya ihwal harus temaram dibalik senja.

Dalam surah Ar-rahman pun ditegaskan 31 kali tentang kebesaran sang Pencipta Jagad Raya,

ar rahman(“Fabiayyi Aalaaa irobbikumaa Tukadzdzibaan”)

Artinya: Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?

Padahal nikmat Allah Subhanahu wa ta’ala yang dianugrahkan kepada kita luar biasa banyaknya, bahkan saking banyaknya, sehingga manusia tidak akan dapat menghitungnya. Sebagaimana firman Allah SWT “Dan apabila kamu sekalian menghitung nikmat Allah Subhanahu wa ta’ala, maka tidaklah bisa menghitungnya.(QS. Ibrahim 34 )”

Sebuah renungan untuk meng-upgrade diri. Tak sepantasnya kita berlaku sombong bahkan membanggakan diri pada sesama. Kedudukan kita sama, hanya iman lah yang membedakan. Senantiasa merendahkan hati bukan berarti harus rendah diri. Menundukkan pandangan, memancarkan cahaya-cahaya keteduhan. sebuah refleksi diri yang semakin menjadikan diri ini belum seberapa. Mari kita renungkan, dalam setiap nanometer gelombang putih dari sang mentari seraya tunduk dan patuh pada perintahNya, seraya bertasbih dan berdzikir mengagungkan Asma-Nya. Bagaimana dengan kita kawan?

Baru dihadapkan dengan segelintir batu kerikil saja sudah terkoyah tak kenal arah. Terombang ambing seakan kita kalah, lemah dan tak berguna demi meratapi segala amarah. Masalah tak akan menjadi besar jika kita ubah menjadi kawan. Seorang yang hebat manakala ia tetap tegar dan tersenyum menangani maslah yang mendera. Masalah janan dijadikan amarah. Berkawanlah. Jadikan sebagai batu loncatan tuk menaikkan derajat kehidupan. Seseorang yang susah Move on, hanya akan selalu menganggap dirinya adalah victims atau korban. Setiap nadinya selalu merasa bahwa “aku ini dizalimi”, “aku yang salah”, “aku yang tak pantas”. Kekuatan untuk Move on berasal dari motivator terbaik, diri sendiri. Ingatlah kawan,

Masalah lah yang membesarkan kita,

perbuatlah banyak kesalahan hingga kita tahu mana yang benar,

perbuatlah banyak kegagalan karna akan membukakan pintu-pintu pemintas pada kesuksesan.

Mentadhaburi alam sangat berguna bagi para pembelajar hidup. Bagi para insan yang ingin lebih meningkatkan iman. Menguatkan fondasi akhlaq dengan aqidah yang kokoh disetiap zaman. Semangat harus tetap terbarukan kawan!! jika tak ingin hanyut dalam fatamorgana kehidupan.

Semut Kecil nan terlihat Besar

Standard
111064_foto-semut-karya-robertus-agung-sudiatmoko

kecil hanya kenampakannmu, sayang

Dik, nampaknya senyuman mu yang dulu seperti tertelan zaman. Tak lagi ku jumpai dikala kita berpapasan. Ada apa gerangan? gundah? sedang mengalami turunnya iman? atau sekedar diam tuk menutupi kekecewaan?. Tak usah berpangku dan bermuram wajah seharian hanya karena kerjaanmu tak dapatkan imbalan, atau bahkan baru gagal di tengah jalan.

Dik lihatlah, SEMUT-semut nampak gagah di ujung dahan. Angannya pun tetap menjulang ke langit BIRU di kota JOGJA ini. Ia ada bukan sekedar menjadi serangga KECIL yang hanya sibuk menari-nari di pelupuk angan. Ibarat JARUM, ia akan tetap kokoh menyulam alotnya serat jahitan. Mereka buta Dik, tapi Tak perlu KACAMATA tuk tetap terjaga dalam rapatnya barisan. Tatkala dahan itu tumbang, tak perlu waktu lama tuk bisa temukan kawanan. Sebuah kesetiaan dalam koloni yang murni, peduli dan suci seputih KERTAS satu tumpukan.

Alangkah munafiknya diri ini jika menganggap mereka lemah. Mereka paham akan MATEMATIKA kehidupan Dik, bahwa satu kawanan dengan yang lainnya berada pada kurva yang saling beririsan. Apa Kamu tahu Dik? semut tak kenal Ms.EXCEL untuk membuat suatu formula (fungsi) dalam merumuskan rapihnya barisan. Mengeluh bukanlah satu pilihan. Manakala keluhanmu itu menciptakan dinding kokoh zona aman, keluarlah Dik ! Bebaskan!.
Belajarlah dari sang Kembang, yang akan tetap merekah indah untuk menebus kegagalan mereka yang pernah gugur di kala siang. Kala ia tercecer, tak banyak yang pedulikan. Ia pun berjuang tuk menggantikan. Kumbang nan gagah mengecupmu tuk berpacu dari Kupu-kupu lain yang berkeliaran. Menyenangkan bukan?

Lantas kenapa engkau masih tetap terdiam? Pohon kelapa takkan terlihat tinggi jika tak kau daki. Bahkan matahari takkan temaram jika tak ada Bulan. Bintang pun begitu, kegelapan akan menyibak pesona keperakan. Ingat papilla lidah kan? tercipta Manis karena pahit di ujung tak diharapkan. Begitu pula perjuangan menuju sukses Dik, tak akan tercicip jika tak kita endus duluan ihwal seonggok “kegagalan”.

Tetap pupuk solidaritas dan kekompakan Dik. Jagalah agar tetap terhubung satu sama lain, ambil filosfi sang MODEM, tetap berkedip tuk menandakan bahwa kamu masih bergerak, bahwa kamu tetap menguatkan dan kamu tetap terkoneksi untuk terus membuka cakrawala perjuangan !!

Refleksi 6/3/2013 —
di Senja sunyi nan menawan —

si pungguk merindukan bulan

Standard

Ketika sang pungguk merindukan bulan, tak terbesit keinginan hati untuk menyadarinya bahwa diri ini memang belum mampu. Bersikeras ia meraih, tapi apa daya, memang bumi ini hanya secuil dari galaksi yang menyatukan kita. Egkau sungguh menawan di kejauhan sana, ia pandangi ditiap kesempatan ia bisa memandangnya. Tapi apa daya, lagi lagi si pungguk merindukan bulan. Berjuta juta mil dalam dimensi ruang dan waktu menjadi pembatas mereka. Bulan nampak elok diatas singgasana yang baginya tak kan mampu untuk mendatangimu. Berpuluh pintu membentengi kau.Mencoba mengimbangimu bukanlah solusi. Karena menjadi orang lain itu bukan pilihan. Naas memang, kemunafikanlah yang diperoleh. Sungguh tanda orang munafik itu tiga, jika berkata dusta, jika berjanji mengingkari, dan jika dipercaya berkhianat. Sekalipun kau mencoba mendustai dirimu, seterusnya akan terpersepsi untuk menjadi bohong lagi, sekalinya kamu dusta, sulit pula dirimu untuk memperoleh kepercayaan, pun janji itu adalah hutang.

Ya Rabb, sungguh munafik diri ini jika mengaku bahwa aku yang paling hebat, sungguh rendah diri ini jika tiap dentang kehidupan selalu merasa paling mampu. Akan tetapi, tak selamanya si pungguk yang merindukan bulan merasa kecewa. Dia bangga, dia memiliki satu mimpi dan keinginan yang luar biasa tak terbentung lewat akal dan pikirannya. Tapi ! bukan dengan merubah dirinya menjadi orang lain, bukan ! bukan iitu!. Sekali lagi menjadi orang lain bukan pilihan. AKU ubah si pungguk yang lemah ini menjadi seorang yang berdaya juang tinggi. Bulan memang jauh, bulan memang menawan. Tapi nyatanya aku tertipu. Kau suguhkan keindahanmu diluar tapi tatkala aku mampu untuk menyambangimu, kamu tak seindah harapan-harapan yang kamu berikan di kejauhan, kau nampak pucat, kau ternyata lemah sepertiku. bahkan sinarmu yang selama ini terpancar, hanya sebuah refleksi dari makhluk lalin yan lebih hebat darimu, tak pantaslah kau sombong denganku seperti itu. Bulan, walaupun si pungguk ini tak ada artinya bagimu, tapi aku bangga. Aku memang bangga bahwa untuk kedua kalinya, menjadi orang lain itu bukan pilihan. Aku mengerti sekarang, kamu bukan jodohku, kamu bukan tulang rusukku dan aku bukan tulang punggungmu. Sungguh wanita yang baik hanya untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik.

—Demikian sahabat, sebuah refleksi diri untuk menjadi lebih termotivasi. Bahwa diri kita sudah ditakdirkan seperti sekarang. Tapi ini bukan alasan kita untuk menyerah pada keadaan, bukan ! justru dengan kita tahu siapa diri kita yang sebenarnya, kita akan selalu berusaha memperbaiki kerumpangan pada bagian tertentu, senantiasa meng-upgrade diri dengan keimanan, dengan memperbaiki ibadah2 kita, Allah maha adil seadil2nya pada setiap umatnya, karena “Rencana Allah lebih baik dari rencana manusia, Ia lah yang maha tahu atas segala yang ada di bumi dan di langit”.

#Semangat Perbaiki Diri #tetap Istiqomah friends 🙂 —