Dunia oh Dunia

Standard

Malik bin Dinar suatu hari berkata, “Seberapa besar sedihmu karena dunia? Maka sebesar itu hasratmu pada akhirat hilang dari dirimu. Seberapa besar sedihmu karena akhirat? Maka sebesar itu pula hasratmu pada dunia akan menguap sirna”.

Sepenggal kalimat penuh makna. Seakan mengingatkan kembali esensi kita hidup di dunia. Sejatinya, setiap manusia adalah khalifah di muka bumi. Namun, apa yang terjadi? Justru ada yang mengingkari. Bahkan, seringkali niat yang dilafadzkan bukan lillahita’ala. Sehingga, akhirat pun dinomor duakan. Alasannya sederhana, karena kita merasa masih muda. Kata pepatah, Muda foya-foya, Tua kaya raya dan Mati masuk surga. Surga siapa? nenek lo?

bunga8Hmm, ibarat biji yang telah mengalami morfogenesis hingga berkecambah dan kotiledon sebagai sumber nutrisi awalnya telah hilang, pemuda adalah perwujudan kuncup yang telah disemai. Untuk tumbuh menjadi tanaman seutuhnya tak lagi mengasup dari nutrisi kotiledonnya. Namun, banyak faktor yang menentukan, baik internal maupun eksternal. Nah disinilah kekompleks-an fase pendewasaan dimulai.

Kehidupan Dunia memang menawarkan banyak candu hingga fatamorgana. Tak ayal bagi yang silau akan gemerlap yang di tawarkan, akan mudah sekali mengalir mengikuti arus yang ada. Jika kita tidak disibukkan dengan kebaikan, maka kita disibukkan oleh keburukan.

Namun bagaimana caranya? Sementara, hidup di dunia ini pun juga dijejali dengan sederet kesibukan. Tak ayal menimbulkan rentetan kerepotan di sana sini. Sebut saja aktivitas perkuliahan yang padat. Jadwal kuliah dari pagi hingga malam, pagi lagi dan pulang malam lagi. Sibuk praktikum di sana sini. Sibuk urusan akademik dan kemahasiswaan yang membingungkan. Berjuang mati-matian belajar untuk ujian. Berdarah-darah dalam menyukseskan event kampus yang menyimbolkan ke-aktivis-an kita. Sibuk menyusun proposal atau laporan di depan laptop hingga larut malam. Kau ingat? Allah memerintahkan kita untuk sholat malam, bukan begadang malam.

Nah, dimulai dari hal-hal kecil itulah perlahan menyeret kita lupa akan tujuan awal hidup di dunia. Seakan terlena dan tak peduli pada kehidupan setelah di dunia. Bukankah sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa di dunia hanya mampir minum saja?

“Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (Tafsir QS. Adz –Dzariyat: 56 )

Jika demikian faktanya, Bagaimana dengan kabar tilawahmu? bagaimana sholat lima waktumu? lantas, apa dhuha-mu masih kau sempatkan untuk bermunajat? sepertiga malam-mu gimana? apa juga kau bela-belakan mengambil air wudhu?

Sungguh ironis memang. Kita bisa berlama-lama facebook-an, mengerjakan revisian, berlama-lama ngobrol dengan teman atau sekedar jalan-jalan di perbelanjaan. Tapi apa tidak malu? ketika Sholat, ingin cepat-cepat takhiyat akhir. Waktu dhuha, hanya kuat 2 rakaat saja. Bahkan saat tilawah, terkadang satu minggu baru dapat satu muka. Nasib sama pada tahajud pula, tak ingin bangun karena air dan udara dingin.

rukunpemuda

Sebuah refleksi diri untuk terus saling mengingatkan, berbagi dan memperbaiki diri. Fokus dan perbaiki niat hanya karena-Nya, niatkan segala bentuk aktifitas positif untuk ibadah. Perkuat iman, perkaya hati dengan keikhlasan yang murni hanya mengharap ridoNya. Sempurnakan niat dengan semangat yang utuh. Hingga kita petik buah dari amal-amal yang kita lakukan di akhirat kelak.

sumber gambar Rukun Pemuda : ademuhammadr.blogspot.com

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s