MINDER (Me-uNDErestimate diRi sendiRi) ?

Status

Alkisah, di sebuah kerajaan ternama di kota kecil yang jauh dari pusat kota, Sydbagh. Datanglah sebuah kiriman misterius yang berisi sebuah KACA. Bukan hal biasa, ada AMANAH khusus menyertai kedatangannya. Entah amanah apa yang tertulis di secarik kertas yang ikut tersegel dalam bungkusnya. Hanya sang Raja yang tau. Kejanggalan pun menyelimuti kaca bening itu.

“ku perintahkan kau Umar, angkatlah kaca ini”, kata sang Raja pada salah seorang Menterinya.”dengan segala hormat yang mulia, tapii……….. kenapa harus saya?” tanya Umar dengan nada terkejut.

Umar pun bingung, kenapa dirinya yang mendapat titah Raja itu. Dengan ragu, ia tarik ulur TANGANnya. Ia enggan memegang, lantaran takut terjadi hal yang mengancam dirinya. Keringat bercucuran, adrenalinnya terpacu hingga nadinya tampak menonjol di pergelangan tangan.

Selagi memantapkan hatinya, pikirannya melayang. Umar sadar, di kerajaan ini JABATANnya tak main-main, Kepala Menteri. Ia sadar tanggung jawabnya besar dan menjadi ujung tanduk dari anak buahnya. Tangannya pun semakin gemetaran. Dengan peluh yang masih bercucuran, ia mengangkatnya.

Pyaaarrr !! Tiba-tiba kaca tadi terjatuh dari genggamannya dan seketika pecah berkepin-keping. Untungnya, meski menjadi serpihan tajam tak ada sedikitpun LUKA di tangan Umar.

“ampuni saya tuanku..” kata Umar seketika sambil menunduk di hadapan sang Raja “saya rela engkau penggal kepalaku. Saya telah menghancurkan kaca milik Raja” tambah Umar semakin berlutut dihadapan Raja.

Raja pun tersenyum melihat tingkah Umar itu. “Umar, menyembahku dan meminta maaf padaku bukanlah SOLUSI yang benar”, kata Raja “kau sadar?? Meski aku seorang Raja yang dielu-elukan dan dihormati seluruh rakyatku, aku ini manusia biasa”

“saya merasa MINDER yang mulia. Masih banyak menteri hebat lainnya yang lebih pantas memegang kaca darimu. Saya ttidak pantas mendapat keagungan untuk mengangkatnya berlama-lama”, ucap Umar lirih.

“Aku yakin dan percaya padamu Umar. Yakinlah, engkau bisa mngangkat batu itu, engkau tiba-tiba menjatuhkannya bahkan menyebabkan kaca itu pecah, semuanya mungkin ada kehendak dari Allah juga” kata Raja

Umar sadar, kepercayaan yang telah diberikan padanya seharusnya dipergunakan untuk semakin mengokohkan niat bahwa ia “bisa” melakukan. Sadari bahwa kuasa yang menggerakkan kaki tangannya adalah Allah.

Persepsi diri yang menganggap tidak bisa dan tidak mungkin harus dihilangkan. Jadikan bahan bakar untuk mengubah persepsi meng-underestimate diri sendiri menjadi kekuatan pemenang berkeyakinan tinggi.

11.03.2014

#‎SS

 

 

karya fiksi hasil rangkaian kata dari  AMANAH  TERKENAL  TANGAN  MINDER  KACA  JABATAN  LUKA  SOLUSI

Cinta, Kerja dan Mimpiku Bersama FLP

Status

Awalnya biasa saja, bahkan tidak tahu banyak tentang FLP itu apa. Itulah, batin yang terbesit sembilan bulan silam, saat ajakan salah seorang teman untuk mengikuti Stadium General dan Launching kepengurusan FLP Wil Yogyakarta di Gd Teatrikal UIN. Setelah ikut SGD pun, batin dan perasaan masih merasa biasa aja, apa sih yang menarik dari FLP. Uniknya, entah karena kekuatan apa, malah meminta formulir pendaftaran di tempat, meski harus “membeli” sebesar 10.000.

Sesampainya di rumah, masih biasa aja, belum ada medan “magnet”  yang bisa menarik diri tuk segera mengisi formulir ini. Akhirnya, satu dua hari terlewati, hingga beberapa minggu dan deadline pendaftaran semakin dekat. Aneh, ternyata kok aku isi juga formulir ini. Dimulai dari biodata diri, tak sulit untuk diisi. Tibalah pada kolom yang membuat niat segan tuk melanjutkan, buku yang pernah dibaca dan penulis idola. Nah lohh….. pena pun berhenti melenggang.

Lupa, FLP itu  organisasi ’penulis’, ya calon anggotanya pun harusnya melek dunia kepenulisan dan pengetahuan tentang buku bacaan dan sejenisnya, ‘kan?. Sayangnya aku tidak. Kuingat kembali apa yang pernah kubaca semasa SMA. Alhamdulillah (Cuma) ada dua buku, Edensor dan 99 Cahaya di Langit Eropa. Formulirpun kukumpulkan, berbekal dua buku yang menjadi senjata apa adanya dan naskah karangan sendiri yang ku cuplik dari blog pribadi (curhatan sih) dan juga modal bacaan seadanya. Alhamdulillah… malah diterima, rasa tak percaya dan tak pantas datang menghantui. But To be a newbie writer must go on.

 

kamu lolos seleksi anggota FLP san?” tanya seorang temanku yang berkecimpung di media SKI Fakultas.

“Hebaatt” celetuknya spontan. Aku hanya tersenyum, apanya yang hebat?.

“Ah, biasa aja kok masih belajar” jawabku sekenanya.

Percakapan singkat tadi masih membuatku terheran. Ternyata, ekspektasi orang di luar sana menganggap FLP itu organisasi yang patut diperhitungkan, buukan maain :D. 

3 Pilar (Keislaman Kepenulisan dan Keorganisasian)

Tangga pertama agar anggota baru dinisbahkan menjadi keluarga FLP angkatan XV diawali dengan PDKT. Tiga pilar ke-FLP an pun diperkenalkan, Keislaman, Kepenulisan dan Keorganisasian. Ketiganya membentuk siklus, bukan alur. Artinya, tiga pilar saling bersinergi membentuk harmoni dan menjadi dasar kemandirian FLP.

Pasca PDKT, kebanggaan akan FLP mulai menyeruak dengan diperkenalkannya nama-nama yang bagiku asing namun ternyata mereka adalah penulis terkenal output dari FLP, Shinta Yudisia, Afifah Afra, Habiburrahman El-Shirazi dan masih banyak lagi. Subhanallah, saya tidak salah langkah ternyata. Langkahku di FLP pun semakin mantap. Mulailah muncul kata hati untuk mencoba peruntungan sebagai penulis betulan. Pasti bisa, karena saat ini saya di FLP, toh ini organisasi kepenulisan yang konon bisa melahirkan penulis-penulis terkenal bahkan karyanya difilmkan.

Iklim di FLP lambat laun mulai nyaman untukku, para senior dan teman seangkatan yang mulai menjadi keluarga ketiga, setelah KAPMEPI DIY dan tentunya Ayah Ibu. Langkah semakin yakin dengan kucicipi manisnya ukhuwah yang tercurah disini. Kini FLP menjadi sebuah madrasah dalam mengupgrade tsaqofah Islamiyah dalam diri. Ibarat sebuah kaca yang akan menghasilkan bayangan yang nyata, tegak, seperti aslinya, itulah FLP. Disini, aku lebih memahami siapa saya, baik kekurangan maupun potensi diri dengan berkaca pada mereka.

FLP telah banyak memberi untukku, memperkenalkan lebih dalam tentang seluk beluk dunia fiksi dan non fiksi, memperluas wawasan lewat kajian kontemporer (seni), FLP juga memberikan wadah bagi yang suka seni lewat Forum Teater, meski hanya pernah sebagai tim properti. Paling baru, FLP memberi pelatihan menjadi calon trainer kepenulisan. Wow banget.

Satu persatu mimpiku mulai tergantung di FLP, menjadi seorang penulis betulan (garis bawah+bold). Betulan berarti betul-betul menghasilkan karya.

“Wahai manusia, saat kau dilahirkan ibumu, engkau menangis sementara orang disekitarmu tertawa gembira. Banyaklah berkarya, kelak kau ‘kan tersenyum bahagia, saat orang-orang menangisi kepergianmu” (Imam Syafi’i)

Tapi kini, FLP tengah disibukkan dengan keistiqomahan jamaahnya. Karya menipis, prestasi minim, gaungnya kini tengah dipertaruhkan dibalik nama besarnya. Menyikapi fenomena itu, dengan mantap dan sigap tim kaderisasi merumuskan bahwa output dari anggota haruslah buku, bukan yang lain. Meski bagiku membuat buku itu susah, harus banyak baca, ngetik berjam-jam, dll. Kini baru kusadari, karya bukanlah tentang awal atau akhir. Bukan tentang lama atau cepat. Bukan pula untuk pujian atau celaan. Tapi pada niat, kesabaran dan kesungguhan azzam tuk menelurkan Karya.

Benarlah Imam Bukhari bisa menghasilkan karya besar yang mahsyur dengan Shahih Al-BukharinyaPantaslah karya besar Imam Syafi’i tersebar hingga kini, menjadi imam mazhab yang besar melalui kitab ar-Risalah dan al-Umm nya. Imam Malik pemilik kitab al-Muwatha. Bahkan Asy-syahid Sayyid Quthb dengan kitab tafsir kontemporer yang menjadi rujukan aktivis pergerakan, Fi Zhilaalil Qur’an [1]. Karya luar biasa yang tidak dihasilkan dari berleha-leha saja. Melainkan buah dari kemauan dan kesungguhan dalam mewujudkannya. Keikhlasan menjadi kunci selanjutnya.

Harapan untuk FLP, semoga menjadi rahim tuk mencetak embrio-embrio calon penerus semangat berkarya para mursyid sekaligus “penulis” hadist tersebut. Kini, FLP telah banyak memberi. Tiga pilar Keorganisasian, Keislaman dan Kepenulisan sudah ia pahamkan. Ingin sekali mimpiku kupersembahkan baginya. Sebuah karya Buku yang pertama. Menjadi tonggak awal pembelajar hidup untuk ikut andil dalam mengembalikan taring FLP Jogja.

Buku, Satu mimpi besar itu. Sejilid kertas wujud kecintaanku padamu. Keistiqomahan dalam berkarya wujud Kerja nyataku setelah lama diam berguru dan bersembunyi dibalik nama besarmu. Kebangkitan bermula dari mimpi, maka tuliskanlah mimpi itu, hingga mimpiku bersama FLP, terwujud dalam sebuah Karya besar, Buku.

Ayo Bangkit FLP Jogja !!

[1] Dalam buku The Power of Mother karya Solikhin Abu Izzudin & Dewi Astuti, hal 167-180

#FLPYogyakarya

#Sejarah Berawal ….

Status

…Percayalah bahwa Innamal A’malu Binniat
Bahkan dalam perawi hadis, niat menjadi bab awal dan banyak dibahas

Luruskan niat, Kerjakan dengan ikhlas, Keep Focus dan serahkan hasil untuk Ia nilai kepantasannya

Sungguh yang disebut berhasil adalah bukan sebanyak apa kesenangan-kesenangan yang kita peroleh, melainkan seberapa besar kepayahan yang telah kita jalani

Yaitu yang bertakwa kepada Allah dalam segala yang diperintahkan dan menjauhi apa saja yang Dia larang maka Allah akan memberikan jalan keluar dalam setiap urusannya, dan Dia akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari jalan yang tidak pernah terlintas sama sekali sebelumnya

1460148_3864338984184_1974045213_n

saat launching buku kompilasi kisah dan pengalaman mahasswa KKN-PPM 2013

Sebuah pengalaman yang sangat berharga. Sekali lagi, ketaatan membawa pada kenikmatan. Bahkan Ia mendatangkan rejeki dari pintu dan arah yang tak di duga-duga. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bisa duduk di kursi itu, terlebih untuk menjadi “pengisi” yaah meskipun barang 20-30 menit saja. Tapi sensasinya luar biasa, unbelieveble moments. Subhanalloh,
Diberikan kepercayaan dan kesempatan untuk bisa menjadi satu dari beberapa penulis kontributor 19 unit KKN-PPM 2013 lainnya, semoga menjadi awal pijakan mengembangkan diri untuk terus bisa berbenah dan menularkan semangat kebaikan ke orang lain. Kembali pada misi hidup ….

Seorang Pembelajar Hidup, terus berusaha menjadi manusia yang berguna bagi sesama

Lewat tulisan, mari kita ubah dunia. Wujud kegelisahan diri untuk ingin sekali berbagi hal-hal yang bermanfaat, yang akan sangat eman-eman jika disimpan sendirian. Satu buku pertama, meskipun masih sebagai kontributor, tapi Alhamdulillah, sebuah karya akan lahir bukan untuk hal yang sia-sia. Karena itu semua adalah buah ikhtiar kita, semoga menjadi berkah tuk meraih ridho-Nya untuk tetap istiqomah di jalan ini. Big thanks for #ForumLingkarPenaX.5 untuk ilmu-ilmu yang telah ditularkan.

buku "Kami diantara Mereka"

buku “Kami diantara Mereka”

 

Selalu Pengen Ikhlas

Status

Diawali dengan rinai hujan yang belum reda sore ini.

Teriring doa yang membasahi tanah. Aroma khas nan sengir pun menusuk-nusuk lubang hidung. Ku rasa ini saatnya mendamaikan diri, hati dan perasaan. Diiringi lagu alam, tetesan hujan yang menghujam atap tanah liat coklat. Sejuk, tenang, damai. Suasana yang membawa pada sebuah memoar yang tidak mengenakkan. Memori yang tersimpan dalam hati namun terpaksa terungkapkan sebagai wujud protes ketidak ikhlasan.

Masalah hati siapa yang tau. Ia yang pandai membolak-balikkan hati, kadang suka, mendadak lara. Kadang gundah mendadak ceria. Ah sudah seperti cuaca saja, yang sudah tak tentu kondisinya. Tapi itulah kehidupan, kita harus senantiasa berbaik sangka pada yang mencipta.

Belajar Ikhlas

Pernahkah merasa gusar karena apa yang kita kerjakan selalu mendapat teguran atau cemoohan dari teman?. Pernahkah merasa menyesal memberikan barang kesayangan meski hanya dalam hati, mbatin. Dalam bukunya Mencari Ketenangan Ditengah Kesibukan karya Ust. Fauzil Adzim beliau mengupas tiga kunci pokok untuk meraihnya, yaitu sabar, ikhlas dan zuhud (sederhana). Satu poin penting tentang ikhlas.

ikhlas itu seperti surat “Al-Ikhlas”, tak ada satupun kata ikhlas bahkan disebut dalam ayat-ayatnya.

itulah ikhlas, merelakan. Mengalah. Bukan berati kita lemah, tapi insyaAllah justru akan mengantarkan kita pada ridhoNya. Tidak menuntut, atau bahkan sampai mengedepankan ego hanya untuk sebuah “sebutan”. Apa bangga rasanya jika dielu-elukan manusia? Apa banggaya sih dipuja-puja banyak orang? Lantas kita melupakan bahwa dunia dan segala tawaran keindahannya ini hanya JEMBATAN menuju jannahNya, menuju kehidupan yang lebih kekal, akhirat.

ikhlas itu seperti “besi”, meski sudah ditempa, dibakar, dipukul berulang kali, ia tak disebut kembali ketika sudah menjadi “pedang”

Susah payah kita mengerjakan. Berpeluh hingga kepayahan kita sendiri yang menanggung. Tapi akhirnya, tak sekalipun nama kita disebut. Bayangkan kamu menjadi donatur sebuah yayasan hampir 50%nya kamu yang menyumbang atas nama anda, tapi ternyata, namamu gak disebut dalam daftar donatur, entah karena lupa atau bagaimana. Apa masih rela? Udah ikhlaskan aja, ya memang ngomong lebih mudah tapi pasti tetap mbatin juga kan? Nah, apa masih bisa disebut ikhlas jika masih dibatin gitu? wallahualam bishowaf

InsyaAllah Allah maha mengetahui. Dan memang masalah niat itu erat kaitannya dengan keikhlasan menunaikan sebuah perbuatan. Apa yang akan kamu peroleh ya berawal dari apa niat kamu diawal. Kalau niatnya hanya untuk mencari sanjungan orang, kamu bisa dapat, tapi rido Allah, siapa yang tau. wallahualam

ikhlas seperti Ali bin Abi Thalib, saat pedangnya sudah menempel di leher musuhnya, saat ludah orang kafir mendarat di wajahnya. Dan saat itu pula gerakan sedikit saja pedang miliknya akan seketika memutuskan leher sang musuh

Namun apa yang terjadi, saat emosinya membuncah maka ia urungkan niat membunuh musuhnya itu..

Hingga setelah ditanya kenapa ia tidak jadi membunuh musuhnya padahal tinggal mengayunkan saja hingga ia terbunuh, jawabnya adalah

“‘Dia telah meludahiku….. jika aku jadi membunuhnya, aku takut akan membunuhnya bukan karena Allah, tapi karena ego dan marah padanya….'”

Subhanallooh, itulah ikhlas yang hakiki. Tak terkontaminasi kepentingan dan kepuasan pribadi. Ikhlas itu karena Allah saja, insyaAllah lebih mendatangkan berkah dan rahmat bagi kita.

Biarkan Allah yang menjawab diamku
akhirnya, ku temukan jawaban atas berbagai keterasingan diri dan istighfarku sampai saat ini, 
#keepistiqomah

KERJA KERAS

KERJA CERDAS

KERJA IKHLAS

Lagi, tentang Introvert

Standard

Menjadi pribadi yang berguna bagi orang lain belum tentu orang yang pintar, pandai, IPK cumlaude, kaya prestasi atau bahkan yang berduit tebal. Sebaliknya, kunci orang yang bisa diterima banyak orang dan berguna bagi mereka hanyalah orang yang serius dan mau membaur dengan mereka. Tak peduli apakah cantik, jelek, miskin atau anak pejabat sekalipun. Kadang tak bisa dipungkiri, masa muda adalah masa untuk mengeksplor diri semaksimal mungkin. Nah, apa jadinya jika kita hanya terdiam menunggu dan melihat orang lain yang “melakukan”?? Membiarkan mereka mereka berlari sendiri mengejar cita dan harapnnya sedangkan kita duduk manis menontnnya. Your life will be so flat Tentukan dan posisikan diri kita sebagai “Pemain” man. Jangan hanya pasrah dan menerima begitu saja jika usaha kita sia-sia. Mari bicara tentang kepekaan diri terhadap lingkungan baik sosial maupun yang lainnya.

Kepribadian seseorang dapat dikelompokkan menjadi dua,

extrovert atau introvert

Kita tahu bahwa pribadi seseorang dikatakan cenderung introvert jika ia merasa kurang bisa “open mind” pada lingkungan yang baru. Jadi, extrovert adalah kebalikannya dari introvert, coba sintesis sendiri.

ada banyak tanda diri kita cenderung pada pribadi yang introvevert. Yuk cek diri kita 

1. gak peka
kalo gak di suruh gak berangkat, kalo gak di tanya gak jawab, kalo gak di ajak ngobrol ya diem, terus kalau tidak di ajak ya gak ada inisiatif untuk mengusulkan dirinya di ikutkan. Pernahkah merasa yang seperti ini? yuk perlahan kita rubah perasaan meng-underestimate diri kita sendiri. Bukankah Allah menciptakan segala yang ada dalam diri kita yang terbaik? lebih hargai diri sendiri dan perlayakkan diri untuk melakukan hal agar tidak selamanya terkukung dalam comfort zone yang semakin menebal.

2. kurang “open mind”
biasanya, kita menjadi introvert ketika mendapat kritikan dari orang. Lalu kita menganggap diri kita “victims” alias korban dari perbuatan mereka. Seringkali merasa bahwa pendapat, omongan dan keberadaan kita kurang diharapkan. Yuk, coba untuk membuka diri lagi, pandang segala sisi dari nilai positifnya. Memang susah diawalnya, tapi jika sudah terbiasakan, mudah kok. Memunculkan bisikan-bisikan hati yang membangun diri untuk merubah kebiasaan kita yang berpikir sempit. Coba saja dengan memulai membuka diri dengan banyak curhat bareng temen sekamar, sepondokan atau seasrama. InsyaAllah Allah meridloi langkah kita menjadi pribadi yang paling baik.

3. merasa gak penting
kecenderungan orang yang introvert akan lebih enjoy dengan dunianya sendiri. Ia akan memilih untuk menyendiri dan mencari kesenangannya sendiri. Parahnya, bisa jadi ia menganggap bahwa sosialita itu gak perlu, wasting time dan untuk saat itu gak penting. Padahal, yang paling mendukung untuk keluar dari zona introvert itu ya ber-SOSIALISASI man . yuk dicobaa.

Sedikit ilmu yang baru saja diperoleh ini dirasa perlu dibagi bagi kalian yang sedang gelisah dengan sisi introvertnya sekarang. Semoga bisa membantu dan menydarkan diri kita untuk senantiasa menjadi pribadi yang berguna  Aaamiin. 

Tradisi Unik di Malam Tirakatan ala Dusun Srunggo I

Standard

Malam Semarak perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68 terasa sangat kental terasa hingga kaki Bukit Cerme. Tepatnya pada malam 17 Agustus 2013 di dusun Srunggo I yang terletak di desa Selopamioro, Imogiri, Bantul. Refleksi perjuangan para pejuang jaman dulu ini dilakukan dengan tradisi unik yang mungkin berbeda di perkotaan yang kita jumpai saat ini.

Malam tirakatan menjadi malam refleksi bagi para warga khususnya kaum Bapak untuk duduk melingkar bersama-sama mengucap doa untuk arwah para pahlawan Indonesia dalam meraih kemerdekaan kita hingga saat ini. Puncak malam tirakatan ini dilaksanakan di pelataran kediaman rumah bapak Syakur selaku Kaum di dusun tersebut. Turut dihadiri pula Bapak Abdul Khamid selaku kepala dukuh Srunggo I yang memberikan sambutan pembakar semangat untuk melakukan “lek-lekan” atau tidak tidur semalaman.

Sederetan prosesi doa bersama dimulai dengan sambutan dari bapak Kaum, bapak dukuh serta perwakilan dari tim KKN-PPM UGM yang kebetulan tengah menjalankan pengabdian di dusun tersebut. Sembari bercengkerama, kaum Ibu sibuk menyiapkan segala uba rampe yang diperlukan untuk terlaksanakannya acara sesuai adat yang berlaku disana. Tradisi ini hampir tiap malam 17 Agustus dilaksanakan oleh penduduk asli sana. Budaya ini masih kental sehingga menjadi ciri khas dan kearifan lokal warga tersebut. Oleh karena itu, patut dan layak kita apresiasi agar tidak tergerus dan luntur oleh modernisasi jaman.

Biasanya disediakan tiga tenggok nasi gurih, pisang, nasi ambeng, ingkung (ayam kampung) dan kembang mawar sebagai pelengkap doa yang akan dihaturkan. Makanan dan kembang yang didoakan itu hanya sebagai simbolisasi doa yang dipanjatkan. Nantinya, sang Kaum akan membagi rata nasi dan ingkung pada semua warga yang hadir.

sarangHal paling unik dan menarik dari prosesi ini adalah wadah yang digunakan warga untuk membawa berkat yang telah didoakan. Namanya sarang, terbuat dari daun kelapa yang di nam menjadi sebuah keranjang bawaan. Disinilah letak kekhasan yang ditunjukkan. Warga tetap menjaga kelestarian budaya dan kearifan lokalnya meski jaman telah menuju modernisasi.

Lihat saja di perkotaan, tirakatan mungkin masih ada, namun bungkus yang digunakan adalah besek (dari bambu), kertas dos hingga styrofoam. Jika dilihat dari segi keramahan lingkungannya, tentu yang menggunakan daun akan lebih mudah terdegradasi (degradable) dari pada plastik ataupun kertas. Ciri khas ini memberikan corak tersendiri bagi perayaan malam itu.

Selain itu, alas nasi yang digunakan pun masih sangat tradisional dan beda dari yang lainnya, yakni menggunakan daun jati. Tekstur daun jati yang tebal dan lebar menjadi kelebihan tersendiri kenapa digunakan oleh warga. “Jika menggunakan sarang ini lebih adem mbak, lagipula kesan rasanya lebih enak, membawanya juga mudah”, tutur salah seorang Ibu yang sedang sibuk mempersiapkan kelengkapan prosesi tersebut.

Acara yang dimulai semenjak pukul 20.00 wib ini diakhiri pukul 23.30 wib. Para warga yang hardir ditempat kemudian pulang dengan membawa masing-masing satu keranjang sarang yang didalamnya berisi nasi putih, gudangan (sayur-sayuran) dan potongan ingkung. Tak ayal, tradisi lek-lekan juga diteruskan oleh sebagian warga yang memutuskan untuk tetap menetap di lokasi hingga dini hari nanti.

Esoknya (17/8) dilaksanakan puncak perayaan dengan sederet lomba yang menghibur untuk anak-anak hingga Bapak-bapak dan Ibu-ibunya. Diantaranya lomba panjat pinang, sepak bola dangdut, makan kerupuk, mencari koin, pecah air dan balap kelereng. Gebyar kemerdekaan terasa hingga di pelosok desa. Tak ayal karena jiwa nasionalisme dan patriotisme kita yang masih terjaga. Semoga doa yang kita panjatkan bersama di kabulkan oleh-Nya hingga Indonesia diusianya yang ke 68 ini tetap menjadi primadona dan kebanggaan kita bersama.

kenduri

Suasana Malam Tirakat Warga Dusun Srunggo I dengan tradisi sarang-nya

Quote

—-

images

andai kau lebih dewasa

andai kau lebih peka

andi juga kau lebih paham tuk menyapa

tak akan ada salah paham yang mengena

membekas penuh makna

apa tersirat itu tak nyata?

tingkah polah yang tak kupahami maknanya

layaknya kumbang yang haus madu sang bunga

hanya bisa kutorehkan senyum simpul

tak ada artinya

bumi akan tetap bulat dan bulan tetap ditempat

tapi ku yakini

Ia melihat, Ia juga memahami

jauhkan dari prasangka

jauhkan dari berburuk sangka

agar hidup lebih bahagia

karena kita semua sama

Bukit Pengabdian

28 Juli 2013

secercah Harap

Alhamdulillah, Aku Tersesat

Standard

sukses-adalah-perjalananAku Tersesat.

Yang muncul di benak mungkin bingung, was-was, panik dan entah berada di negeri antah berantah mana saat itu. Misalnya saja tersesat di jalan sepi yang sama sekali tidak kita kenal bahkan pertama kali melihatnya. Ingin bertanya tak ada orang yang melintas, ingin melanjutkan perjalanan tapi penuh dengan dilema.  Parahnya, kalau tidak balik arah, ya nekat melanjutkan jalan. Akan tetapi, justeru yang ada kita makin buta arah. Bingung kan? Rasanya akan sangat jengkel dengan diri sendiri.

Sayangnya, Lika-liku dan nano-nano rasa yang terkesan menyedihkan itu tak ku jumpai di jalanku yang “sedang” tersesat ini. Aku sadar bahwa aku menempuh jalan yang mulai bercabang.

Pencarian jati diri memang harus dilakukan. Tak heran, di momen-momen golden age sebagai seorang remaja yang sangat melik (curious-red.), menuntuk dirinya untuk mencoba apapun yang ia jumpai. Perlu diwaspadai, bahwa di dunia ini hanya ada dua hal, kalau tidak baik ya buruk, kalau tidak terpuji ya tercela, ada kanan ada kiri, selalu ada pasangannya, bahkan Allah pun telah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan. Tapi ini gak ada hubungannya dengan jodoh 🙂

Disinilah awal mula pergolakan batin. Meniti jalan yang penuh cabang. Ada yang menawarkan kesenangan, ada pula yang menawarkan kepuasan sesaat. Parahnya, ada juga yang tak betah hingga ikut-ikutan ke jalan yang penuh kemaksiatan. Sungguh mental pun diuji, namun yang tak kalah vital adalah iman.

Dalam tafsir QS. At Taghabuun (64) : 11

Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.

Inilah kebesaranNya, Ia yang Maha Agung, Maha Mendengar tidak tidur tidak berayah maupun beribu. Ia Esa. Ia juga yang mengguratkan warna-warni kanvas di kehidupan kita.

Aku bahagia, aku tersesat karena memilih jalan yang benar. Aku tersesat dari jalan yang selama ini salah ku lalui. Juga, aku tersesat jauh dari persimpangan-persimpangan yang menawarkan berbagai bujuk rayu kegembiraan yang fana.

Tersesat di jalan yang lapang. Dijalan yang penuh kembang dan kumbang bersenang-senang. Di jalan yang penuh dengan keyakinan diri untuk selalu mengingat-Mu. Jalan yang menjauhkan dari kebuntuan-kebuntuan hati dalam berserah diri. Jalan yang di alasnya terbbuat dari serat-serat ukhuwah yang kokoh. Jalan yang berliku namun mantab menuju-Mu. Jalan yang selalu terang karna bersama berjuang dengan orang-orang yang kau ridloi, dalam lingkup dan lingkar orang-orang yang shalih.

Tunjukilah kami ke jalan yang lurus

Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka

Bukan (jalan) mereka yang dimurkai

Dan bukan pula jalan mereka yang sesat

Sepenggal tafsir surah Al-Fatihah yang senantiasa menjaga bara semangat dalam diri tetap terjaga. Semoga tetap mengawal diri untuk istiqomah di jalan yang “sedang” tersesat ini. Bersyukur jalanku telah dibelokkan olehNya pada kebenaran, dituntun menuju peningkatan kualitas diri.

Obat hati, memang ada lima perkaranya, tapi yang terakhir berkumpullah dengan orang-orang shalih.

Syair penutup yang memang begitu adanya. Alhamdulillah, engkau perindah langkahku, dipertemukan dengan sosok-sosok yang membesarkan hati untuk tetap istiqomah.

Musholla Antah berantah,

di rinai hujan senja tadi

Emas Recehan si Kakek Tua

Standard

Bulan Juni ini, waktunya membayar pajak Kijang milik Ayahku. Tak kusangka kali ini beliau menugaskanku untuk membayarkannya. Sejak malam harinya, Ayah sudah memberikan gambaran tata cara administrasi kepadaku dan sekaligus denah tempat SAMSAT terletak. Aku hanya mengiyakan dan tak ada bayangan dalam pikiran meski Ayah menyebutkan berulang kali. Akhirnya aku hanya mengangguk dan kutunaikan tugas mulia ini. Untung-untung buat pengalaman.

Jam 8 tepat aku berangkat. Menaiki kuda hitam matic yang sudah 3 tahunan menemaniku. Mulai dari kuliah hingga jalan-jalan sama teman. Udara pagi sedikit terkontaminasi asap-asap bis kota dan kendaraan yang lalu lalang. Aku yang masih muda saja sampai batuk-batuk gara-gara bau yang menyengat berwarna hitam keabuan itu. Hingga di pertigaan lampu merah, ku buka tutup kaca helm dan sedikit mengusap-usap hidungku yang gatal di sentuh gas monoksida tadi.

Sembari menunggu hijau muncul, ku arahkan kedua mataku menyapu sekeliling. Hingga terhenti pada kakek tua yang bersimpuh di bawah tiang lampu.

images (3)sebentar ku pandangi, kemeja abu dengan setelan celana putih tulang. Entah warnanya begitu atau karena ia tak menggantinya beberapa bulan. Kepalanya yang sudah tertutupi uban, semakin disamarkan dengan topi bulat putih yang tak  baru lagi. Tatapannya tak lagi tajam. Kulitnya pun menghitam karna seringnya terkena terik siang. Kerutan tanda penuaan di dahi dan tangan itu cukup menunjukkan bahwa usiamu kira-kira sudah  70-an.

Kutajamkan lagi pandanganku, mengamati polah tingkah mu yang menjulur-julurkan tangan. Wajahmu tertunduk lemas, jikalau menengadah, kau memancarkan aura kesedihan yang mendalam. Mengharap belas kasihan orang yang menunggu hijau untuk sejenak menoleh ke arahmu.

klintiing klintiing klintinggg. . . .

bunyi itu tak asing di telingaku. Itu adalah rengekan dari recehan seratus rupiah, atau mungkin 500 rupiah. Ah, masak iya kakek tua itu ‘mengemis’? Anganku terbelalak. Aku pun memalingkan pandangan pada dua orang yang berboncengan di depan kakek tua itu terduduk. Jelas memang, mereka melemparkan beberapa buah koin 100-an. Lalu kau tau? Kakek  itu seketika mengambil recehan yang bergelimpangan itu dengan cekatan. Sontak aku tercengang. Aku miris, ingin sekali aku menangis. Kek, ternyata kau ‘sekarang mengemis’.

Jauh di sanubariku merasa terpukul, meski kakek tua itu bukan ayah atau ibuku. Aku ikut merasakan sedih dari wajah tuamu. Tak selayaknya kau sekarang duduk di situ. Tak pantas pula kau sekarang kenakan baju lusuh dan kotor penuh debu. Ingin sekali lagi ku menangis. Kulanjutkan perjalananku menuntaskan amanah dari Ayah.

Di jalan, bayangan usang Kakek tadi masih terngiang. Di usianya yang senja, sepatutnya kau duduk manis di teras menikmati secangkir kopi manis. Seyogyanya pula, tak usah kau kerja hanya untuk satu koin rupiah. Seharusnya kau sekarang duduk di kursi goyang yang nyaman dengan segala layanan dari anakmu. Ya ! Anakmu !!

Kemana anak-anakmu Kek?!  Mereka yang dulu selalu kau cukupi kebutuhannya. Mereka yang selalu kau pantaskan pakaiannya agar tak ketinggalan dan malu dengan sebayanya. Mereka yang juga kau nyamankan dengan hunian yang serba di ‘ada-adakan’. Mereka juga yang dulu kau beri uang meski ia tak meminta sekalipun. Sebentar saja ku lihat satu sisi kehidupanmu di tepian trotoar tadi, tak kuasa ku harus berkata. Berkata pada diri ku ini. Orang tua sudah banyak berjasa untuk mendewasakanku. Pontang-panting menuruti segala kemauan. Yang senyatanya tak ada pun di ada-adakan, entah dengan hutang atau berjualan. Kau tau demi apa? Demi sebuah senyum simpul wujud gembira sang buah hati.

Tentu dengan segala kasih yang diberikan, tak akan mampu kita menukarnya. Uang? Jabatan? Rumah mewah? Mobil?. Bukan, bukan itu yang mereka mau. Mereka hanya ingin melihat sosok yang selalu membanggakan, sosok yang dewasa dengan segala cinta. Kasih, murni dan tulus hingga menjadi senyum simpul yang terpancar dari wajah mereka (orang tua kita).

Kek, mungkin bagimu recehan itu bagai emas yang berharga. Satu koinnya kau anggap 10 gram emas 24 karat. Demi tercukupi sesuap nasi siang ini. Biarlah emasmu semakin bertambah, biar ceria terpancar di senjamu nanti. Tak usah kau fikirkan anakmu yang mungkin telah mengasingkanmu. Biar ia menuai buah dari kesombongannya terhadapmu.

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tua ibu bapanya…”(Tafsir QS. Al-Ahqaaf: 15)

receh-3

>> perspektif kecil sebuah sisi kehidupan

>> di Tepian trotoar Gejayan

>> 08.45 wib